| lagi iseng aja,, yang penting ga ngisengin orang kapan lagi bisa kayak gini | |
| in juga sama met menikamati aja |
Showing posts with label sumpah. Show all posts
Showing posts with label sumpah. Show all posts
Wednesday, May 27, 2009
Iseng Aja
Friday, August 8, 2008
Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai "Hari Sumpah Pemuda".
Isi :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Kongres Pemuda II:
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, ketua PPI Soegondo (lihat Sugondo Djojopuspito) berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola (lihat juga Sugondo Djojopuspito). Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
Peserta :
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.
Isi :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Kongres Pemuda II:
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, ketua PPI Soegondo (lihat Sugondo Djojopuspito) berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola (lihat juga Sugondo Djojopuspito). Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.
Peserta :
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.
Refleksi Semangat Sumpah Pemuda
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Segala puji hanya untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam yang memegang kendali atas semua peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini, kepada-Nya kita meminta, berserah dan berharap.sholawat dan salam semoga selalu tercurah pada nabi Muhammad SAW suri tauladan bagi kita ksemua.
Sebuah semangat yang tak pernah luntur adalah semangat yang mengalir dalam nadi pemuda, takan kita dapatkan selain dari mereka sebuah kejujuran dalam memperjuangkan apa yang dianggap benar. Aku sampaikan sebuah salam kepemudaan, kita pekikan
Hidup MAHASISWA!
Selamat datang kami ucapkan kepada mahasiswa baru adik-adik kami.
Tujuh puluh sembilan tahun silam, semangat pemuda untuk memekikkan kesatuan Nusantara benar-benar menyala. Walau berada di bawah tekanan penjajah, mereka tetap mempersatukan diri dan mendeklarasikan sumpah setia kepada Nusantara. Puncaknya, pada 28 Oktober 1928 bergaunglah tekad kuat para pemuda yang terangkum dalam butir-butir Sumpah Pemuda: "Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia".
Pemuda telah munjukan kemampuannya dalam merefleksikan sebuah semangant dan idealisme yang menjadi pendorong untuk terus berkarya dengan inovasi yang tinggi. Setidaknya sumpah pemuda telah menjadi sebuah prinsip untuk menciptakan sebuah kondisi yang ideal, meneguhkan kemerdekaan hakiki, meneguhkan kembali semangat pemuda dalam mempersatukan bangsa, menjaga kemurnian bahasa persatuan.
Perubahan merupakan seuatu hal yang mutlak terjadi. Kemerdekaan telah berlalu, tak lagi ada perang, tak lagi ada pertumpahan darah merebut kemerdekaan, namun tidak dengan semangat sumpah pemuda yang terus mendengungkan sebuah perubahan. Kini saatnya berkarya tak lagi dengan senjata, namun pembangunan pada sektor riil, peningkatan karya teknologi, karya ilmiah, danmenciptakan masyarakta berbasis technology education.
Para adik–adiku sekalian.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dewasa ini mendapatkan perhatian yang khusus dari berbagi kalangan dan pemerhati, terbukti teknologi mejadi suatu harapan ditengah gelapnya dogma primitif yang dalam beberapa tahun silam dianggap sebagai pembangkangan ataupun kemustahilan. Selalu ada penemuan dan inovasi yang terjadi setiap saat, komputer canggih, perlatan komunikasi multifungsi, robotika, dan berbagai teknoloogi-teknologi lain yang mengarah pada penciptaan peradaban tertinggi manusia yang pernah dicapai, sebuah karya yang bersifat back to nature tidak merugikan manusia dan alam.
Wahai mahasiswa baru.!
Tak ada lagi yang seharusnya bisa menghalangi tercapainya suatu peradaban yang dibangun dengan semangat pemuda yang tak boleh padam, sebuah semangat yang sarat dengan kerinduan untuk bisa membangun, membangun dengan cerdas dan penuh tanggungjawab.
Dengan tema “Membuka Wawasan Berpikir Keilmuan Teknik Menuju Insan Cedikia, Mandiri, Bernurani dan Profesional Melalui Pendidikan Profetik” kita mengharapkan dapat menunjukan pada Dunia bahwa perubahan itu harus tercapai dan dan diciptakan berlandaskan nilai-nilai kecerdasan dan sikap tanggung jawab yang muncul sebagai bukti tidak hilangnya semangat perjuangan dalam dada ini. Terus berkarya, terus berbuat, dan hidup mahasiswa!
Akhirnya selamat datang kami ucapkan kepada kalian semua wahai mahasiswa baru, di fakultas pendidikan yang luar biasa ini, Fakultas Teknik UNY, jangan sia–siakan dirimu dengan memadamkan api semangat yang sedang berkobar di dadamu, jangan sia-siakan semangat para mahasiswa dalam menegakan kebenaran di bumi pertiwi kala itu, jangan biarkan tangan-tangan kotor menghancurkan mimpi-mimpi kita.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Subscribe to:
Posts (Atom)