Showing posts with label menuntut ilmu. Show all posts
Showing posts with label menuntut ilmu. Show all posts

Friday, April 4, 2014

For My Beloved Brother; Be Strong!

Sudah tahun ketiga kau di negeri tanpa ayah dan bunda. Ada beberapa keluarga, namun aku tahu kita tak selalu bisa menyapa mereka. Ku lihat, dari wajahmu cetakan rindu. Rindu bertemu ayah bunda. rindu bertemu adik-adikmu bukan? aku tahu kau rindu ingin pulang. rindu ingin mencium aroma kampung yang dulu kau sering bermain bersama kawan-kawan sebayamu. Atau aroma tanah ladang, aroma ilalang dan rerumputan, tempat kau menggembala sapi yang menjadi modal kuliahmu dulu.

Aku tahu kau rindu saat-saat diamana kau kayuh sepeda tuamu untuk berangkat sekolah. Menjadi yang terdepan dibarisan apel pagi, dan terkadang menjadi yang paling belakan, atau terkadang menjadi yang terhukum karena kau terlambat. Saat itu bisa ku bayangkan wajahmu pucat karena takut, atau cemberut karena kesal.

Aku tahu kau rindu, sebab aku juga.

Friday, January 27, 2012

Generasi Penuh Keunikan; menuntut ilmu

Sejarawan muslim awal terkemuka, Al Waqidi menuturkan bahwa dikalangan  Anshar terdapat 70 anak muda yang dikenal dengan sebutan Al Qurra’  (orang yang pandai membaca): setiap sore hari mereka berbondong-bondong ke Madinah untuk mempelajari agama dan melaksanakan shalat. Dan pagi harinya, mereka mencari air dan kayu bakar (bekerja, edt).

Tentang sosok mereka ini, Anas bin malik menuturkan, “Kami menyebut mereka Al Qurra’… Mereka senantiasa bekerja disiang hari dan menunaikan shalat dimalam hari. Ada pula diantaa mereka para sahabat yang menghabiskan semua pekerjaannya hariannya pada siang hari dan mengkhususkan waktu malamnya hanya untuk menuntut ilmu dan beribadah. Yakni karena takut kehilangan pahala keutamaan menuntut ilmu.

Besarnya perhatian para sahabat dalam menuntut ilmu, membuat mereka yang disibukkan oleh bisnisnya tidak ingin ketinggalan sedikitpun dari ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah. Karena itu, dua atau tiga orang diantara mereka sepakat untuk menghadiri majelis Rasulullah secara bergantian dan kemudian menularkannya pada yang lain. Tentang hal ini Umar bin Khaththab meriwayatkan, “Aku dan seorang tetanggaku dari kaum anshar tinggal di Bani Umayah  ibn Zaid-salah satu bukit Madinah. Dan kami selalu turun menghadiri mejelis Rasulullah secara bergantian: Ia turun sehari, dan juga besoknya aku juga turun sehari. Bila giliranku tiba, akupun datang ke majelis Rasulullah dan mengabarkan semua yang kudengar pada hari itu-baik wahyu ataupun yang lain-kepadanya. Demikian pula jika gilirannya tiba, iapun melakukan hal serupa.” (Bukhari Juz 1, hal 71) dari sumber aselinya klik disini atau