Saya bertemu beliau dua kali. Setidaknya itu adalah dua kali
yang berkesan dalam perjumpaan dengannya. Dua kali yang member inspirasi, dua
kali yang membongkar semangat, dua kali yang menanamkan keteguhan menjalankan
tugas, dua kali yang member sentuhan kebersamaan. Keluarga.
Dia adalah orang yang layak mendapat pujian dan penghargaan.
Meski dalam dua pertemuan, semoga Allah
merahmatinya, semua semangat membangun etos kerja yang tinggi seperti terurai
dalam untai kata-kata yang bermakna. Tak sekedar kata yang keluar dari seorang
yang putus asa atau bingung tanpa arah. Dia berkata, seolah tengah merencana
menguasai dunia, atau Al Fatih yang tahu benar bahwa takdirnya menaklukkan
konstantinopel. Ambisius, pemimpi, menyandang visi yang tinggi, pantang
menyerah, dinamis, produktif, dan kaya ide-ide cemerlang.
Dua yang pertama, waktu itu saya baru ngantor di PPPA Daqu
Jogja. Sebagai relawan Ramadhan. Ketika tulisan ini terbit, Alhamdulillah saya
sudah merampungkan kontrak saya sebagai relawan. Saya sering mendengar sebuah
nama, nama yang pada pertemuan ini sungguh menawan ketakjuban bahwa ada
kepribadian seperti ini dalam dirinya. Pertemuan pertama itu adalah ta’aruf. Bekenalan.
Kebetulan tiga orang relawan yang bertugas di belakang meja kantor fundrising
ada tiga orang, salah satunya saya.