Showing posts with label sido makmur. Show all posts
Showing posts with label sido makmur. Show all posts

Tuesday, March 26, 2013

Ingat-ingat rumah, memupuk semangat yang mulai pudar

jambu mete di ladang
Coba-coba ingat rumah. Coba-coba menggali motivasi hidup yang kian menghilang. Pasalnya "gagal" seringkali menjadi kawan, kawan yang terlampau akrab.

Ini cara untuk rihlah pikir, enteng khayal.. 
Ingat-ingat,...
Ingat. setiap musim jambu mete, ketika bunganya mulai kuncup, pohon dengan bau daun yang khas itu mulai diselimuti warna hijau, merah, dan putih.. Bunga mete. Biasaya itu terjadi dimusim kemarau akhir, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. membelai dedaunan, seperti seorang ibu yang mengusap kepala anaknya, bedanya mete mengeluarkan bunga sedang sang anak tertidur pulas.

Kalau musim bunga itu datang, maka kerja sambilanku adalah membersihkan gulma yang memadatai hampir seluruh area lahan jambu mete. Ini kerja tahunan, hanya setahun sekali. karena lahan yang ditanami mete, apalagi metenya sudah besar, maka tidak ada ruang untuk tanaman holtikultura yang lain, karena daun-daun jambu mete lebat menghalangi matahari yang dibutuhkan oelh tumbuhan holtikultura dibawahnya. situ sebabnya kerja ini hanya setahun sekali. karena memang tidak ada tanaman lain selain jambu mete. kecuali ditebang, dan diganti dengan tanaman lain.

Thursday, November 8, 2012

reribu rasa rindu

Malam larut.. sementara itu pikiranku menerawang. Pada Bumi Anoa. tempat jasad mulia ini dilahirkan. Terbit reribu rasa rindu padanya. menguliti bungkus jejak hidup ditanah para raja. didalamnya masih ada kerinduan.

bersama rindu itu, kabar malam ini membuat hatiku resah. menggelisahkan. sesegera lalau otak dalam tempurun kepala ini mengambil fikir. starting. hendak segera pulang. disana ada yang memanggil.

bukan suara merdu, atau merdu nyanyian masa lalu. atau rindu tentang tanah kelahiran. panggilan itu, dari moral yang telah mulai hancur, dari pendidikan yang tengah dipermainkan, dari iman yang tenah terkikis, dari budaya yang terhedoniskan, suara dari perilaku yang kehilangan arah, dari sebuah sikap yang penuh dengah keangkuhan. dari suara keterpurukan moral, keterjepitan rasa.

Aku...aku Oh Tuhan.. rindu segera menuntaskan.
dan ketika tekadku membulat lalu ia meredup. sadar bahwa diri jauh dari mampu untuk berbuat dan berubah.

Maka dalam sisa waktu. aku ingin hidup dalam kesejatian musafir. yang menghidupi dirinya dengan Ilmu dan hikmah.