Showing posts with label profetik. Show all posts
Showing posts with label profetik. Show all posts

Saturday, July 31, 2010

Trasnformasi kedewasaan; pengukuhan mahasiswa

Satu kebanggaan bagi penulis dapat bertemu dengan mahasiswa baru, mereka siapapun yang telah bertemu dengan saya, atau akan bertemu dengan saya. Kedatangan kalian seperti obat yang menyembuhkan kerinduan pada keluhuran cita-cita bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedikit mengobati luka memar kekecewaan terhadap sistem pendidikan lalu yang menyisakan penderitaan berupa ketidak merataan pendidikan diseluruh pelosok negeri. Dan kedatangan kalian memberi satu pengharapan besar pada bangsa ini, bahwa generasi muda tunas bangsa senantiasa bermunculan untuk memberikan kontribusinya pada pembangunan bangsa, menunjukan prestasi-prestasi gemilang untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa ini di mata bangsa dan negara lain. Supaya mereka tahu, bahwa bangsa indonesia adalah bangsa yang besar, bermartabat, dan berkarakter.


Tentu tidak mudah, mentransformasi diri secara cepat dari tingkat kedewasaan siswa menuju tingkat kedewasaan mahasiswa, menyandang gelar akademis yang memiliki tanggungjawab moral menerapkan tridharma perguruan tinggi. Anda akan mengalami perubahan luarbiasa sebagai seorang remaja. Dan perubahan yang akan anda alami hanya ada dua pilihan, anda berubah menjadi orang yang baik, atau anda berubah menjadi orang yang buruk. Pembatas antara keduanya sangat kecil, kecil saja sikap salah yang anda ambil untuk mengarungi kehidupan kampus ini, maka akan sangat susah untuk memperbaikinya diwaktu yang akan datang.

Anda tidak bisa memalingkan diri dari perubahan besar dalam diri anda ini, hal ini dapat dijelaskan karena perubahan sikap ini disebabkan oleh dua hal berikut:

1. Konsistensi kognitif

Setiap orang tentu memiliki prinsip dalam hidupnya, walaupun kekuatan dalam mempengaruhi hidup itu sangat kecil, tapi pada kondisi tertentu, terkadang prinsip itulah yang menunjukan arah pada dirinya, itulah yang disebut konsistensi kognitif, yaitu konsistensi diri yang mengarahkan kehidupan mereka pada satu jalan yang telah terekam dalam konsistensi itu. Maka sangat bersyukurlah bagi anda yang memiliki prinsip hidup postitif, karena anda telah memiliki satu pegangan yang mengarahkan hidup anda akan menjadi seperti apa. Tetapi disatu sisi, konsistensi itu sangat rentan dengan pengaruh dari luar.

Sebagai contoh, kita ambil sikap terhadap bakso. Anda menyukai makan bakso dan sering mencoba bakso di berbagai tempat. Suatu saat anda mendengar bahwa banyak bakso yang menggunakan formalin dan daging tikus. Karena informasi tersebut anda mengalami disonansi. Nah, apa yang anda lakukan untuk mengurangi disonansi anda? Mungkin anda berhenti mengkonsumsi bakso, tidak lagi menyukai bakso (menjadi bersikap negatif), atau mengabaikan informasinya (cuek saja).

Oleh karena itu penting bagi anda mempertahankan konsistensi kongnitif positif anda, yaitu dengan menjaga motivasi atau pengaruh dalam diri anda dengan bergaul dengan lingkungan yang mengokohkan konsistensi itu.

2. Komunikasi persuasif

Berapa banyak orang yang membelanjakan uangnya untuk membeli barang di mall atau swalayan setelah menonton sebuah iklah yang ditayangkan pada saat primetime, dikeluarkan sebanya 20 kali setiap 10 menitnya?

Tentu saja banyak, pikiran mereka telah hanyut dengan kata-kata menghebohkan dari iklan itu, lalu berapapu harga yang ditawarkan akan tetap dibeli karena kebutuhan dirinya telah berubah menjadi kebutuhan iklan.
Artinya bahwa penting bagi anda untuk mendengarkan siapa yang bicara atau siapa yang mempengaruhi anda, karena mereka memilik potensi besar untuk mempengaruhi anda menjadi seperti apa anda nantinya
Maka untuk mengawal transformasi diri kita ini, dari kedewasaan siswa menuju satu kedewasaan mahasiswa dibutuhkan satu keberanian untuk menentukan sejak dini mau jadi apa diri kita, keputusan anda masuk kekampus ini telah saya anggap satu poin keberuntungan, karena kampus ini telah banyak melahirkan generasi-generasi gemilang, berprestasi dan memiliki pandangan jauh kedepan, sehingga mereka tampill sebagai penggerak pembangunan bangsa.

Pendidikan profetik adalah kurikulum pergaulan dikampus ini, kekeluargaan adalah ikatan sosial diantara warganya, cinta tuhan dan agama mengisi relung-relung hati mereka, berprestasi adalah gaya hidup mereka.
Pada akhirnya saya mengucapkan selamat datang bagi mahasiswa baru di kampus profetik.---Kampusnya santri gaul----

Penulis : Mustaghfiri Ramadlan (KMM FT UNY)

Tuesday, August 11, 2009

Tidak Sekedar "Slogan"

perdaban Inspiratif hanya bisa dibangun oleh guru peradaban perkarakter profetik,

mahasiswa inspiratif, berkarakater profetik
kampus inspiratif, berkarakter profetik

bergerak tuntaskan perubahan



tekanan itu mengerutkan dahiku,
jawaban-jawaban itu memerahkan mataku
tatapan itu menghanyutkanku


Totalitas


Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

(nyanyian aksi yang kuat, entah siapa pengarangnya)

Buruh Tani

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang muliaHari-hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

Marilah kawan
Mari kita kabarkan
Ditangan kita tergenggam arah bangsa

Marilah kawan
Mari kita nyanyikan
Sebuah lagu
Tentang pembebasan

Dibawah kuasa tirani
Kususuri garis jalan ini
Berjuta tani turun aksi
Bagiku satu langkah pasti

Kampus Inspiratif

jika kita menjatuhkan pandangan pada satu tatanan sosial yang berkembang dimasyarakat, maka akan kita temukan begitu banyak kesenjangan yang terjadi dalam kehidupan ini. sebuah pernyataan yang pasif pada satu nilai yang dianggap alami (terjadi) dan tak pantas untuk menolaknya.

sebuah kecenderungan untuk hidup dalam kondisi yang nyaman dan beralas kasur, serta condong pada satu budaya hura-hura (hedon) yang dalam suatu kasus, budaya itu adalah budaya import yang tak mengenal nilati tradisi yang berkembanga dalam masyarakat pribumi yang menjadi satu patokan dasar jati diri bangsa.

sangat berbeda jauh dengan berpuluh tahun silam, ketika tanah ini dikunjungi oleh sekelompok orang tak dikenal, maka sambutan keramhtamahan muncul seketika itu juga, seperti sebuah kedipan mata atas reaksi masuknya kotoran didalam mata. respon instan yang spontan, karena ia menjadi watak yang hidup dalam nilai prinsip pada karakter budaya yang mengakar.

lalu ketika tanah ini di serang, maka sebentuk perlawanan yang dilakukan adalah semata-mata jatuh pada sebuah entitas kebanggaan dan kebangsaan, yang dijunjung semulia-mulianya, sebuah karakter yang menjadi dasar nilai kebanggaan itu.

namun hari ini, perjuangan mereka, nilai fundamental yang memberik mereka satu konsepsi dasar pergereakan perjuangan ini, telah mulai hilang detelan waktu sayup-sayup suaranya terdengar memanggil dan berharap akan adanya keinginan bersama untuk terus menjadikannya satu kebanggaan, kebanggaan pada karakter bangsa, satu kebanggaan pada nili luhur bangsa, satu kebanggaan pada budaya yang menjadi fondasi bangsa, satu keyakinan pada tujuan bersama dalam berbangsa dan bernegara.

oleh karena itu, ketika kesadaran personal telah muncul, dan terangkai pada kolektifitas yang terus mencuatkan taringnya, dan nikmat perjuangan telah terasa di ujung lidah ini, maka satu tangung jawab akan muncul sebgai dampak semua gerakan kebangkitan itu.

sebuah tanggungjawab yang bertolak pada kesadaran untuk memperjuangkan nilai dasar pembangunan bangsa, mengukir kembali kejayaan masa lalu, begerak dari alam Imaji menuju kenyataan yang sesungguhnya. ialah mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk bergabung dalam barisan dalam satu kesadaran yang sama, keresahan yang sama dan tujuan yang sama, yang setelah itu menjathkan sebuah konklusi pada satu bentuk gerakan menglobal yagn mendunia.

dan sampaikan pada mereka ; para pencuri kebudayaan kita, para pemerkosa nilai luhr bangsa kita, para koruptor yang menjual harga diri bangsa kita, bahwa kita bukanlah bangsa yang lemah, bahwa kita adalah bangsa yang bangga pada kemampuan diri kita, bahwa kita adlah bangsa yang hidup diatas kaki sendiri, bahwa KATA KITA MENGINSPIRASI DUNIA.

maka jadikanlah kampus kita sebagai kampus inspiratif, yaitu kampus yang menjadikan ideologinya, wawasannya, pemikirannya, sistemnya, gerakanya, perkataanya, jiwanya, raganya, adalah inpirasi Dunia!!!.

Monday, August 10, 2009

Ospek FT UNY

,Ospek adalah serangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga kampus untuk menyambut dan memperkenalkan kepada Maba garis besar perwajahan kampus, baik secara akademik, rumah tangga, maupun kemahasiswaan.

Di Uny, Ospek akan berlangsung selama 5 hari dengan rincian Ospek Univ pada hari pertama, :
dengan rangkaian acara yang bersifat global ke-Universitasan. selanjutnya Display UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Sebuah show yang memperkenalkan pada Maba semua organisasi mahasiswa tingkat Universitas. pada hari ke-3 sampai ke-5, adlah Ospek tingkat fakultas, lebih spesifik pada pengenalan komponen fakultas dan jurusan bagi Mahasiswa.

selanjutnya lebih spesifik di Fakultas Teknik, mahasiswa pada hari ke-3 Ospek Uny akan dib erikan materi ke-Fakultasan lebih kearah Teknik, dengan rangkaian acara berikut: materi birokrasi, parma, kepemudaan, kapita selekta,.

yang paling menarik dalam kegiatan ini adalah adanya satu visi bersama yang di sampaikan dalam ospek, dan pada akhirnya menjadi satu pemikiran dasar yang aka terus terkenang selama kita kuliah disini (Uny) bahwa kampus kita adalah "Kampus Inspiratif".

tidak hanya Ospek, pasca Ospek akanada agenda Follow Up untuk memberikan sebentuk pelayanan dan apresiasi pada Ospek kali ini. dan kegiatan ini diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan baik tingkat Universitas, fakultas dan jurusan, yaitu SDP (Student Development Program)




Sunday, May 24, 2009

Pendidikan Karakter


Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.

Lebih dari itu, pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard Claparède, Ovide Decroly, Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang pribadi.

Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual, bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte.

Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.

Empat karakter

Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.

Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang.

Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.

Pengalaman Indonesia

Di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik, dan perilaku keseharian, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan.

Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakan perjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealisme kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetap mengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatan puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.

Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikan karakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktif Deweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an.

Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga belum menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Mereka membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yang dikatakan guru.

Loncatan sejarah

Apakah mungkin sebuah loncatan sejarah dapat terjadi dalam tradisi pendidikan kita? Mungkinkah pendidikan karakter diterapkan di Indonesia tanpa melewati tahap-tahap positivisme dan naturalisme lebih dahulu?

Pendidikan karakter yang digagas Foerster tidak menghapus pentingnya peran metodologi eksperimental maupun relevansi pedagogi naturalis Rousseauian yang merayakan spontanitas dalam pendidikan anak-anak. Yang ingin ditebas arus ”idealisme” pendidikan adalah determinisme dan naturalisme yang mendasari paham mereka tentang manusia.

Bertentangan dengan determinisme, melalui pendidikan karakter manusia mempercayakan dirinya pada dunia nilai (bildung). Sebab, nilai merupakan kekuatan penggerak perubahan sejarah. Kemampuan membentuk diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai etis merupakan ciri hakiki manusia. Karena itu, mereka mampu menjadi agen perubahan sejarah.

Jika nilai merupakan motor penggerak sejarah, aktualisasi atasnya akan merupakan sebuah pergulatan dinamis terus-menerus. Manusia, apa pun kultur yang melingkupinya, tetap agen bagi perjalanan sejarahnya sendiri. Karena itu, loncatan sejarah masih bisa terjadi di negeri kita. Pendidikan karakter masih memiliki tempat bagi optimisme idealis pendidikan di negeri kita, terlebih karena bangsa kita kaya akan tradisi religius dan budaya.

Manusia yang memiliki religiusitas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat, bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan mampu berbagi nilai-nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi natural manusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malah mengatasnamakan religiusitas itu sendiri.

Doni Koesoema, A, Mahasiswa Jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Kepausan Salesian, Roma

Sumber: Kompas Cyber Media

Saturday, May 23, 2009

pendidikan profetik

Sebagai agen perubahan sosial, pendidikan Islam yang berada dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi, dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi yang berarti bagi perbaikan ummat Islam, baik pada dataran intelektual teoritis maupun praktis.

Pendidikan Islam bukan sekedar proses penanaman nilai-nilai moral untuk membentengi diri dari ekses negatif globalisasi. Tetapi yang paling urgen adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan Islam tersebut mampu berperan sebagai kekuatan pembebas (liberating force) dari himpitan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan sosial budaya dan ekonomi (Syafi’i Ma’arif). Kandungan materi pelajaran dalam pendidikan Islam yang masih berkutat pada tujuan yang lebih bersifat ortodoksi diakibatkan adanya kesalahan dalam memahami konsep-konsep pendidikan yang masih bersifat dikotomis; yakni pemilahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum (sekuler), bahkan mendudukkan keduanya secara diametral.

Dari pendidikan Islam yang masih cenderung bersifat dikotomis yang selama ini terpisah secara diametral, yakni pendidikan yang hanya menekankan dimensi transendensi tanpa memberi ruang gerak pada aspek humanisasi dan liberasi dan pendidikan Islam yang hanya menekankan dimensi humanisasi dan liberasi dengan mengabaikan aspek transendensi. Dalam teori sosialnya Kuntowijoyo (alm) Ilmu Sosial Profetik.

PEMBAHASAN

Profetik berasal dari bahasa inggris prophetical yang mempunyai makna Kenabian atau sifat yang ada dalam diri seorang nabi1. Yaitu sifat nabi yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan. Dalam sejarah, Nabi Ibrahim melawan Raja Namrud, Nabi Musa melawan Fir’aun, Nabi Muhammad yang membimbing kaum miskin dan budak belia melawan setiap penindasan dan ketidakadilan. Dan mempunyai tujuan untuk menuju kearah pembebasan. Dan tepat menurut Ali Syari’ati “para nabi tidak hanya mengajarkan dzikir dan do’a tetapi mereka juga datang dengan suatu ideologi pembebasan”.

Secara definitif, pendidikan profetik dapat dipahami sebagai seperangkat teori yang tidak hanya mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial, dan tidak pula hanya mengubah suatu hal demi perubahan, namun lebih dari itu, diharapkan dapat mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik. Kuntowijoyo sendiri memang mengakuinya, terutama dalam sejarahnya Islamisasi Ilmu itu -dalam rumusan Kunto- seperti hendak memasukan sesuatu dari luar atau menolak sama sekali ilmu yang ada2. Dia mengatakan: “saya kira keduanya tidak realistik dan akan membuat jiwa kita terbelah antara idealitas dan realitas, terutama bagi mereka yang belajar ilmu sosial barat. Bagaimana nasib ilmu yang belum di Islamkan? Bagaimana nasib Islam tanpa Ilmu?. Dengan ungkapan seperti ini, Kuntowijoyo tidak bermaksud menolak Islamisasi ilmu, tapi selain membedakan antara ilmu sosal profetik dengan Islamisasi Ilmu itu sendiri, juga bermaksud menghindarkan pandangan yang bersifat dikotomis dalam melihat ilmu-ilmu Islam dan bukan Islam.

Secara normatif-konseptual, paradigma profetik versi Kuntowijoyo (alm) didasarkan pada Surar Ali-Imran ayat 110 yang artinya: “Engkau adalah ummat terbaik yang diturunkan/dilahirkan di tengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah”.

Terdapat tiga pilar utama dalam ilmu sosial profetik yaitu; amar ma’ruf (humanisasi) mengandung pengertian memanusiakan manusia. nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan. dan tu’minuna bilah (transendensi), dimensi keimanan manusia. Selain itu dalam ayat tersebut juga terdapat empat konsep; Pertama, konsep tentang ummat terbaik (The Chosen People), ummat Islam sebagai ummat terbaik dengan syarat mengerjakan tiga hal sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut. Ummat Islam tidak secara otomatis menjadi The Chosen People, karena ummat Islam dalam konsep The Chosen People ada sebuah tantangan untuk bekerja lebih keras dan ber-fastabiqul khairat. Kedua, aktivisme atau praksisme gerakan sejarah. Bekerja keras dan ber-fastabiqul khairat ditengah-tengah ummat manusia (ukhrijat Linnas) berarti bahwa yang ideal bagi Islam adalah keterlibatan ummat dalam percaturan sejarah. Pengasingan diri secara ekstrim dan kerahiban tidak dibenarkan dalam Islam. Para intelektual yang hanya bekerja untuk ilmu atau kecerdasan an sich tanpa menyapa dan bergelut dengan realitas sosial juga tidak dibenarkan. Ketiga, pentingnya kesadaran. Nilai-nilai profetik harus selalu menjadi landasan rasionalitas nilai bagi setiap praksisme gerakan dan membangun kesadaran ummat, terutama ummat Islam. Keempat, etika profetik, ayat tersebut mengandung etika yang berlaku umum atau untuk siapa saja baik itu individu (mahasiswa, intelektual, aktivis dan sebagainya) maupun organisasi (gerakan mahasiswa, universitas, ormas, dan orsospol), maupun kolektifitas (jama’ah, ummat, kelompok/paguyuban). Point yang terakhir ini merupakan konsekuensi logis dari tiga kesadaran yang telah dibangun sebelumnya3.

Pendidikan Islam yang sekaligus sebagai bagian dari sistem pendidikan Nasional. Secara ideal, pendidikan Islam bertujuan melahirkan pribadi manusia seutuhnya. Dari itu, pendidikan Islam diarahkan untuk mengembangkan segenap potensi manusia seperti; fisik, akal, ruh dan hati4. Segenap potensi itu dioptimalkan untuk membangun kehidupan manusia yang meliputi aspek spiritual, intelektual, rasa sosial, imajinasi dan sebagainya. Rumusan ini merupakan acuan umum bagi pendidikan Islam, yang akhir tujuannya adalah pencapaian kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan Islam ingin membentuk manusia yang menyadari dan melaksanakan tugas-tugas ke-khalifahan-nya dan terus memperkaya diri dengan khazanah ilmu pengetahuan tanpa batas serta menyadari pula betapa urgentnya ketaatan kepada Allah SWT sebagai Sang Maha Mengetahui dan Maha Segalanya. Dalam Surat Al-Baqarah disebutkan pada ayat: 269 yang artinya: ”Tidaklah berdzikir kecuali ulul albab”. Disini, ada proposional antara dzikir dan fikr dalam sebuah cita-cita pendidikan Islam. Artinya, hakikat cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia beriman dan berilmu pengetahuan, yang satu sama lainnya saling menunjang (S.S, Husein dan S.A, Ashraf: 1979).

Dalam mewujudkan cita-cita pendidikan Islam, muncul berbagai problematika dalam pendidikan Islam. Diantaranya krisis dalam pendidikan Islam karena muncul adanya Dikotomi epistemologi antara Ilmu agama (akhirat) dan ilmu umum (dunia), antara Ilmu modern barat dan Ilmu tradisional Islam. Selain itu, disebabkan pula oleh sistem pendidikan Islam yang hanya dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan yang bersifat formal dan mengabaikan idealisme yang mencerminkan proses-proses pemenuhan tugas-tugas kemanusiaan. Indikasi tersebut cukup jelas, dengan terlihat munculnya dua tipologi pendidikan Islam yakni, Pendidikan Islam tradisional dan Pendidikan Islam modern.

Pada dasarnya tujuan umum pendidikan Islam, menurut Prof. M. Athiyah Al-Abrasyi menyimpulkan lima tujuan umum yang asasi. Diantaranya yaitu; Pertama. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia5. Bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam, dan untuk mencapai akhlak sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya. Kedua, persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan diakhirat. Pendidikan Islam menaruh penuh untuk perhatian kehidupan tersebut, sebab memang itulah tujuan tertinggi dan terakhir pendidikan. Ketiga, persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Islam memandang, manusia sempurna tidak akan tercapai kecuali memadukan antara ilmu pengetahuan dan agama, atau mempunyai kepedulian (concern) pada aspek spiritual, akhlak dan pada segi-segi kemanfaatan. Keempat, menumbuhkan roh ilmiah (scientific spirit) pada pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui (co-riosity) dan memungkinkan untuk mengkaji ilmu sekedar ilmu6. Kelima, menyiapkan pelajar dari segi profesional.

Pendidikan yang berwawasan kemanusiaan mengandung pengertian bahwa pendidikan harus memandang manusia sebagai subjek pendidikan. Oleh karena itu, starting point dari proses pendidikan berawal dari pemahaman teologis-filosofis tentang manusia, yang pada akhirnya manusia diperkenalkan akan keberadaan dirinya sebagai khalifah Allah dimuka bumi. Pendidikan yang berwawasan kemanusiaan tidak berpretensi menjadikan manusia sebagai sumber ikatan-ikatan nilai secara mutlak (antroposentris), karena di Eropa pada abad pertengahan menjadikan ilmu murni dan teknologi teistik justru membawa malapetaka di abad modern ini, dimana kepribadian manusia menjadi terpisah-pisah di dalam jeratan dogma materialisme yang mengaburkan nilai kemanusiaan. Padahal pendidikan itu sarat akan nilai dan harus berarsitektur atau landasan moral-transendensi.

Jika kegagalan pendidikan dalam rangka memaksimalkan peran profetiknya karena tidak dapat menempatkan manusia sebagai subjek pendidikan dalam setting teologis-filosofis. Jadi bukan sebagai objek pendidikan, yang menurut Paulo Freire dikatakan sebagai konsep bank7. Oleh karena itu, pendidikan harus kembali pada missi profetik, yaitu memanusiakan manusia (Humanisasi), berijtihad / pembebasan (liberasi), dan keimanan manusia (transendensi).

PENUTUP

Pendidikan pada hakekatnya merupakan pross memanusiakan manusia (humanizing human being). Karena itu, semua treatment yang ada dalam praktek pendidikan mestinya selalu memperhatikan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan dengan fitrah, sebagai mahkluk individu yang khas, dan sebagai mahluk sosial yang hidup dalam realitas sosial yang majemuk. Untuk itu, pemahaman yang utuh tentang karakter manusia wajib dilakukan sebelum proses pendidikan dilaksanakan. Namun demikian, dalam realitasnya banyak praktek pendidikan yang tidak sesuai dengan missi tersebut.

Kenyataan bahwa proses pendidikan yang ada cenderung berjalan monoton, indoktrinatif, teacher-centered, top-down, mekanis, verbalis, kognitif dan misi pendidikan telah misleading. Tidak heran jika ada kesan bahwa praktek dan proses pendidikan Islam steril dari konteks realitas, sehingga tidak mampu memberikan kontribusi yang jelas terhadap berbagai problem yang muncul. Pendidikan (khususnya agama) dianggap tidak cukup efektif memberikan memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah. Karena itu, banyak gagasan muncul tentang perlunya melakukan interpretasi dan reorientasi, termasuk melakukan perubahan paradigma dari praktek pendidikan yang selama ini berjalan.

Pendidikan harus dimaknai sebagai upaya untuk membantu manusia mencapai realitas diri dengan mengoptimalkan semua potensi kemanusiaannya. Dengan pengertian ini, semua proses yang menuju pada terwujudnya optimalisasi potensi manusia, tanpa memandang tempat dan waktu, dikategorikan sebagai kegiatan pendidikan. Sebaliknya, jika ada praktek yang katanya disebut pendidikan ternyata justru menghambat berkembangnya potensi kemanusiaan dengan berbagai bentuknya, maka ini justru bukan praktek pendidikan. Hanya saja, harus disadari bahwa memang ada perbedaan metode atau strategi antara satu dengan lainnya, namun mestinya perbedaan tersebut hanya sebatas teknis pelaksanaan, bukan pemaknaan tentang pendidikan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

  • Rosyadi Khoiron, “Pendidikan Profetik”, Pustaka Pelajar, Cet. I, 2004, Yogyakarta

  • Shofan Mohammad “Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam)”, IRCiSoD bekerjasama dengan UMG Press, Cet. I , 2004, Yogyakarta

  • Kuntowijoyo (Alm), “Muslim Tanpa Masjid”, Bandung: Mizan, 2001

  • Banawi Imam, “Segi-segi Pendidikan Islam”, Al-Ikhlas, 1987, Surabaya

1 Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, Bandung: Mizan, 2001 hal.357

2 Moh. Shofan, “Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam )”, IRCiSoD, Yogyakarta, Hal.131

3 Ibid, hal.365

4 Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Hal.04

5 Al-Ghazali mengatakan: tujuam murid dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan pada masa sekarang adalah kesempurnaan dan keutamaan jiwanya. (Al-Ghazali, MIzanul amal 1961). Dikutip dari Zainuddin, Seluk beluk Pendidikan dari al-ghazali, jakarta,1991, hal.44

6 Al-Ghazali mengatakan: apabila engkau mengadakan penyelidikan terhadap ilmu engetahuan, maka engau akan melihat kelezatan padanya. Oleh karena itu, tujuan mempelajari ilmu pengetahuan adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri (Al-Ghazali, ihya’Ulumiddin I:13),. Pernyataan itu menyiratkan kesan bahwa penelitian, penalaran, dan pengkajian yang mendalam dengan mencurahkan tenaga dan pikiran (Ijtihad) adalah mengandung kelezatan intelektual kepada mereka dalam mencari hakikat ilmu pengetahuan. Ibid, hal.42

7 Paulo Freire, “Pendidikan Kaum Tertindas”, Cet. 2 LP3ES, Jakarta, 1991, hal.49

sumber:http://km3community.wordpress.com/2008/07/02/pendidikan-profeti-versi-kuntowijoyo/