Allah SWT ketika menyampaikan tentang takwa, Dia menjadikan takwa sebagai sebuah parameter kemuliaan seorang hamba. tidaklah seorang hamba mulia dimata Allah melainkan ia adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyakan mengenai keutamaan suatu hal dari yang lainnya, di antaranya beliau ditanyakan mengenai manakah yang lebih utama antara orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang selalu bersabar. Lalu beliau jawab dengan jawaban yang sangat memuaskan, “Yang paling afdhol (utama) di antara keduanya adalah yang paling bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam taqwa, maka berarti mereka sama derajatnya.” (Badai’ul Fawaidh, 3/683). Itu pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon hal. 67.
Dalam shohih Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat dari Abu Hurairah, Ada yang mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa.”
Dengan demikian, Takwa merupakan nilai yang akan menentukan kemuliaan seorang hamba dimata Allah SWT.
kita telah mafhum, bahwasanya ada satu generasi terbaik yang dilahirkan sepanjang perjalanan sejarah perkembangan Islam, yaitu generasi awal, Ash shabiqunal Awwalun. sebuah generasi pelopor yang menabuh genderang perjuangan Islam dalam melebarkan pengaruh dan kejayaan Islam di semenanjung arab, dan bergerak ke seluruh Dunia.
kemuliaan mereka tidak lepas dari pengaruh yang ditanamkan Rasulullah SAW. melalui Qur’an yang mengandung kelengkapan ilmu, ia mentarbiyah para sahabat menjadi seorang yang memiliki sikap dan karakter rabbani. AL Qur’an menerangkan tentang karakter para sahabat, mereka adalah seorang mujaahidin (pejuang), auliyaa’ (kekasih Allah) dan du’aat (pengemban dakwah), mereka juga orang-orang yang sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah. hingga jadilah mereka generasi terbaik yang pernah ada, menampilkan sebuah keteladanan yang bernilai tinggi, yang jarang dapat kita temui diera reformasi saat ini. “Khoirunnass qornii, tsummalladziina yaluunahum, tsummalladziina yaluunahum” sebaik-baik ummatku”, yang hidup pada zamanku (para shahabat), kemudian yang sesudah mereka (tabiin), kemudian yang sesudah mereka (tabiut tabiin).
bukanlah sebuah kebetulan, terlahir sebuah generasi terbaik. sebab mereka semua dibina dan ditempa dengan kebenaran Al Qur’an oleh Rasulullah SAW secara langsung. melalui tahapan yang panjang dan berkesinambungan. tidak satu peristiwa dalam hidup Rasulullah melainkan didalamnya terkandung pelajaran. sehingga bagi para sahabat mudah untuk memahaminya, sebab ilmu yang disampaikan oleh rasulullah dapat dilihat secara nyata dalam kepribadian rasulullah SAW.
Rasulullah SAW adalah pendidik yang terbaik, kata-kata yang terucap dari bibirnya adalah perkataan yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan, tatapan matanya meneduhkan, perkataannya jujur, dan dia mampu berkomunikasi dengan berbagai level tanpa mereka merasa diresahkan dengan perkataanya. dia juga orang yang sabar dalam menyampaikan dan penuh kasih sayang. perhatikan bagaimana rasulullah SAW tetap ramah ketika menegur sahabat yang melanggar larangan Allah dibulan ramadhan. kala itu ada sahabat yang bercampur dengan istrinya disiang ramadhan, lantas rasulullah memberi hukuman atas kesalahan yang diakukan sahabat. hingga beberapa hukuman yang diberikan, sahabat merasa keberatan atas hukuman itu. melihat ini, rasulullah dengan tersenyum akhirnya memberikan hukuman yang sangat ringan. yakni memberi makan keluarganya saja, itupun dengan kurma yang diberikan oleh Rasulullah SAW. lalu bagaimana kesabarannya dalam memberi makan seorang janda tua buta dengan penuh kasih sayang, meski ia dihina dan di caci. itulah pancaran Rasulullah SAW, yang mengajarkan kepada manusia (sahabat) dengan hikmah dan mau’idzotul hasanah. sungguh indah apa yang telah diajarkan rasulullah SAW.
Sehingga terlahir orang-orang seperti Umar Bin Khattab yang lembut, padahal kita tahu sebelum Islam menghampirinya ia adalah orang yang keras lagi kasar. Abu Bakar Ash Shiddiq yang teguh pendirian, Utsman bin Affan yang lembut dan bijaksana, Ali Bin Abu Thalib yang perkasa, dan banyak karakter-karakter sahabat lain, yang datang menguatkan barisan Islam.
Lalu apa yang kita temui saat ini, sungguh miris melihat generasi muda bangsa, yang dididik dan dibina dalam system pendidikan, yang lebih banyak didominasi oleh rujukan-rujukan dan teori barat nan sarat dengan dehumanisasi, pembodohan, dan nilai2 liberal. Dampak semua itu dapat kita lihat dari proses pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah. berapa banyak sekolah yang memperhatikan waktu-waktu Sholat?, berapa banyak sekolah yang memperhatikan adab-adab pergaulan dalam lingkungan sekolah?, atau berapa banyak sekolah yang memperhatikan perkembangan siswa dalam ruang eksistensinya sebagai manusia yang layak untuk dimanusiakan dengan penanaman nilai?, lebih banyak mereka dipaksa untuk menghafal ketimbang memahami. ada juga yang menawarkan pendidikan ekstra cepat, cepat lulus cepat dapat kerja, namun hasil akhirnya ternyata mereka bagaikan sebuah robot bergerak, tanpa ruh.
sehingga jadilah generasi bangsa ini, generasi bangkrut yang yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang dimuliakan. Koruptor, Penipuan, Sogok-menyogok, dan kengerian lainnya.
Oleh karena itu, demi membangun sebuah generasi yang memiliki karakter yang mulia, perlu perbaikan secara keseluruhan, baik dari segi materi, perangkat, metode, serta pendidik itu sendiri. apa yang dicontohkan Rasulullah dalam membina generasi sahabat adalah teladan yang sangat tepat ditengah system pendidikan yang mengalami korosi. Memang tidak semua kondisi pada zaman Nabi dapat kita tiru pada saat ini secara gamblang, tetapi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap aktifitas nabi dalam membina tetap dapat diaplikasikan disetiap zaman. Sehingga lahirlah generasi-generasi kuat, berwawasan luas, dan berkarakter Rabbani. generasi takwa yang menguatkan barisan Islam.
Showing posts with label pendidikan profetik. Show all posts
Showing posts with label pendidikan profetik. Show all posts
Saturday, July 2, 2011
Monday, September 27, 2010
reformasi dakwah kampus; integratif dan profesional
Kita mengetahui, bahwa tidak ada jalan yang mudah untuk meraih sebuah kebahagiaan, kebahagiaan yang hakiki, yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada umatnya. Hanyalah orang-orang yang Allah ridho padanya, maka dengan ia akan dianugerahkan satu nikmat itu.
Berdasarkan firman Allah dalam surah Ali ‘Imran ayat 21
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.(Ali ‘Imran:21)”
Demikianlah sunnatullah yang berlaku sejak risalah ini diturunkan, Nabiyullah Muhammad SAW berada dalam keadaan yang bersusah payah dalam mengajak keluarga kerabatnya untuk bergabung dalam barisan Islam. Ia bahkan di hina dan dicaci sebagai orang gila, karena dianggap membual. Tetapi hal ini tidaklah kemudian menyurutkan langkah beliau untuk menegakkan kalimat Allah di muka Bumi ini.
Demikian tabahnya ia menyeru pamannya Abu Thalib untuk masuk Islam, betapa sabarnya Rasulullah menyeru penduduk thaif, dimana celaan dia balas dengan doa kebaikan. Lalu betapa teguh pendiriannya ketika diiming-imingi oleh harta dan imbalan untuk meninggalkan dakwah dan lain sebagainya, yang akan membuat kita semakin kagum atas kebaikan akhlak dan perjuangannya dalam memperjuangkan Islam.
Penuh kesabaran ia seru manusia pada jalan kebaikan, secara sistematis ia putuskan langkah-langkah dakwah yang tepat untuk menyampaikan risalah Islam, dan dengan sikap konsisten ia bina umat dimasa awal dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Sehinga muncullah para jundullah yang gigih memperjuangkan Islam hingga Islalm itu tegak di Jazirah Arab
Lalu sepeninggal Rasulullah SAW, dakwah ini tetap berjalan, diteruskan oleh para sahabat, dengan tantangan dan perjuangan yang berbeda-beda.
Meski susah sungguh, namun rasulullah dan para sahabat demikian gigih memperjuangkan Islam, menegakkan Dien Allah, dimuka Bumi. Begitu indah janji Allah pada para mujahid itu..
“ Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (At Taubah:88)”
Ikwah fillah rahimakumullah..
Bagaimanakah kita membaca kondisi umat ini, akan sangat berpengaruh pada sikap kita sebagai kader-kader dakwah. Dalam dekade ini, umat Islam dihadapkan pada satu fenomeda yang sangat menarik. Umat Islam menjadi satu entitas yang dikelasduakan. Dunia Islam menjadi bulan-bulanan dunia barat pengusung kapitalisme untuk memuaskan ambisi mereka dalam menguasai dan mengeksploitasi Bumi, dengan dalih menyelamatkan padahal mereka adalah perusak yang sesungguhnya.. seperti yang disampaikan dalam ayat berikut (ayat tentang mengelola bumi, padahal merusaknya).
Disisi lain, Islam dicap sebagai agama yang penuh kekerasan dan ketidak adilan, karena ajarannya yang banyak menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan menrut versi mereka. Terorismepun menjadi satu momok menakutkan yang hanya boleh disandingkan kepada umat Islam.
Sungguh ironi, nilai-nilai kebaikan yang luhur pada ajaran Islam terdistorsi oleh satu kekuatan yang menguasai sebagian besar aset-aset Bumi. Katakanlah barat, umat Islam seolah kerdil dihadapan mereka. Kita tidak memiliki cukup nyali untuk berkata tidak pada mereka, bahkan beberapa negara yang notabene adalah warganya Islam cenderungu untuk diam ketika melihat saudar-saudara kita ditekan dan di ambil hak-haknya.
Namun demikian, sesungguhnya kekuatan barat yang terlihat besar itu saat ini tengah berada pada posisi yang menyedihakan. Tidak ayal, fenomena gunung es sangat tepat untuk menggambarkan kondisi mereka, terlihat kuat, tetapi sesungguhnya mereka berada dalam jurang kehancuran yang hebat. Berbagai penyimpangan terjadi, kemerosotan akhlak merebak, kebejatan terjadi dimana-mana, kemunduran perdaban kemanusiaan menjadi penyakit utama yang melanda negeri ini.
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(Al Baqarah:9)”
Para hadirin yang dimuliakan Allah..
Lalu bangsa Indonesia, ditengah penantian masyarakat terhadap perbaikan diberbagai sektor, yang dijanjikan oleh pemerintah, agaknya semakin hari semakin menuju pada titik jenuh yang membosankan. Masyarakat telah banyak kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah, karena ketidak mampuan dalam menciptakan perbaikan diberbagai sektor berbangsa dan bernegara. Jadilah kita menjadi bangsa yang mengidap krisis kepemimpinan.
Disisi lain, masyarakat semakin dibingungkan dengan sikap pemerintah yang seolah lamban dalam menentukan kebijakan baik skala makro maupun skala mikro, jadilah kondisi masyarakat kita seolah berada dalam negeri awan, tanpa pijakan.
Ikwahfillah…
Diambang kehancuran imperialisme barat, tidak kondusifnya kehidupan berbangsa dan bernegara di negara kita, matinya nilai-nilai kemanusiaan, kelabunya sistem Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Perlu ada satu langkah berani untuk mengembalikan citra Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, mengembalikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Karena tidak ada kebahagiaan melainkan itu bersumber dari ajaran Islam Islam adalah Manhajul Hayat (sistem kehidupan) yang membimbing manusia menuju jalan keselamatan. Tidak ada perintah yang tertuang dalam ajaran Islam kecuali di sana ada maslahat. Sebaliknya tidak larangan yang tertuang dalam kecuali di sana ada mudharat yang menghadang
Sehingga kejayaan Islam menjadi satu kunci untuk menciptakan peradaban manusia yang bermartabat, humanis, dan di ridhoi oleh Allah SWT.
Dan itu semua tidak dapat dilakukan melainkan ada orang-orang yang mau mewujudkannya. Dan orang-orang itu adalah kita.
Ada satu masa dimana generasi Islam dilahirkan dan dididik untuk menjadi pejuang yang gigih memperjuangkan Islam. Yaitu masa dimana mereka mencari dan meneguhkan dirinya sebagi judullah yang siap diterjunkan untuk menjadi kader-kader dakwah mengembalikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Dan masa-masa itu salah satunya berlangsung dilingkungan perguruan tinggi.
Ikwahfillah…
Kita sudah sering melihat, bahwa kampus memiliki peranan yang sangat strategis dalam mendidik generasi-genarasi Islam militan dengan kapasitas seorang ilmuwan. Berada pada waktu dan tempat yang tepat, memberikan ruang pilihan bagi seseorang untuk memilih berdakwah dijalan Allah. Maka sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai kader dakwah untuk mengarahkan mereka pada satu jalan yang Allah suka padanya. Yaitu dakwah itu sendiri. Lalu pada akhirnya, segala proses dimana kita mengajak dan menyerukan para cendikiawan muda untuk bergabung dalam barisan dakwah dengan Istilah dakwah kampus.
Dakwah kampus menopang lahirnya generasi-genarasi penerus yang memperjuangkan Islam sesuai dengan tujuan dakwah kampus itu sendiri yaitu suplay alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan - untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam - menjadi sangat penting. Derivasi lainnya, lembaga dakwah kampus perlu secara bertahap menjadi lembaga dakwah kampus yang matang, agar dapat memainkan perannya di perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengusung perubahan.
Oleh karena itu perlu ada upaya untuk mereformasi dakwah kampus agar lebih dapat menopang satu fungsi sebagai pencetak generasi dakwah melaui langkah integratif dan profesional.
Disisi lain juga memerlukan dukungan beberapa hal untuk meningkatkan kemajuan kerja dan stabilitas aksi-kontribusi terhadap karya-karya dakwah kampus. Beberapa hal itu adalah :
Pembinaan kosisten
Pembinaan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter para mujahid genarasi dakwah disetiap masa. Pada masa inilah terjadi transformasi generatif tentang semangat berdakwah, dan menanamkan sikap bersedia berkorban dijalan Allah. Kita menjaga satu dan yang lainnya berada dalam jalan yang diridhoi Allah.
"Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan AL-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." ( QS. Ali 'Imran : 164 )
Program yang sesuai dengan kebutuhan ummat
Agar dakwah kampus ini dapat diterima oleh mad’u dakwah, maka perlu penyesuaian agenda-agenda dakwah yang mendukungk kondisi dakwah kampus, dan tujuan dakwah secara global.
Dukungan finansial
Dukungan finansial dibutuhkan untuk meningkatkan prosentase keberhasilan agenda-agenda dakwah.
Demikianlah pandangan kami terhadap dakwah kampus, kampus merupakan tempat dimana lahir generasi-generasi penerus estafer dakwah, sehingga harus dijaga keberadaannya. Melalui dukungan moril dan materil, dapat lebih memberikan kontribusi yang maksimal sesuia dengan tuntutan zaman
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.(Ali ‘Imran:21)”
Demikianlah sunnatullah yang berlaku sejak risalah ini diturunkan, Nabiyullah Muhammad SAW berada dalam keadaan yang bersusah payah dalam mengajak keluarga kerabatnya untuk bergabung dalam barisan Islam. Ia bahkan di hina dan dicaci sebagai orang gila, karena dianggap membual. Tetapi hal ini tidaklah kemudian menyurutkan langkah beliau untuk menegakkan kalimat Allah di muka Bumi ini.
Demikian tabahnya ia menyeru pamannya Abu Thalib untuk masuk Islam, betapa sabarnya Rasulullah menyeru penduduk thaif, dimana celaan dia balas dengan doa kebaikan. Lalu betapa teguh pendiriannya ketika diiming-imingi oleh harta dan imbalan untuk meninggalkan dakwah dan lain sebagainya, yang akan membuat kita semakin kagum atas kebaikan akhlak dan perjuangannya dalam memperjuangkan Islam.
Penuh kesabaran ia seru manusia pada jalan kebaikan, secara sistematis ia putuskan langkah-langkah dakwah yang tepat untuk menyampaikan risalah Islam, dan dengan sikap konsisten ia bina umat dimasa awal dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Sehinga muncullah para jundullah yang gigih memperjuangkan Islam hingga Islalm itu tegak di Jazirah Arab
Lalu sepeninggal Rasulullah SAW, dakwah ini tetap berjalan, diteruskan oleh para sahabat, dengan tantangan dan perjuangan yang berbeda-beda.
Meski susah sungguh, namun rasulullah dan para sahabat demikian gigih memperjuangkan Islam, menegakkan Dien Allah, dimuka Bumi. Begitu indah janji Allah pada para mujahid itu..
“ Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (At Taubah:88)”
Ikwah fillah rahimakumullah..
Bagaimanakah kita membaca kondisi umat ini, akan sangat berpengaruh pada sikap kita sebagai kader-kader dakwah. Dalam dekade ini, umat Islam dihadapkan pada satu fenomeda yang sangat menarik. Umat Islam menjadi satu entitas yang dikelasduakan. Dunia Islam menjadi bulan-bulanan dunia barat pengusung kapitalisme untuk memuaskan ambisi mereka dalam menguasai dan mengeksploitasi Bumi, dengan dalih menyelamatkan padahal mereka adalah perusak yang sesungguhnya.. seperti yang disampaikan dalam ayat berikut (ayat tentang mengelola bumi, padahal merusaknya).
Disisi lain, Islam dicap sebagai agama yang penuh kekerasan dan ketidak adilan, karena ajarannya yang banyak menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan menrut versi mereka. Terorismepun menjadi satu momok menakutkan yang hanya boleh disandingkan kepada umat Islam.
Sungguh ironi, nilai-nilai kebaikan yang luhur pada ajaran Islam terdistorsi oleh satu kekuatan yang menguasai sebagian besar aset-aset Bumi. Katakanlah barat, umat Islam seolah kerdil dihadapan mereka. Kita tidak memiliki cukup nyali untuk berkata tidak pada mereka, bahkan beberapa negara yang notabene adalah warganya Islam cenderungu untuk diam ketika melihat saudar-saudara kita ditekan dan di ambil hak-haknya.
Namun demikian, sesungguhnya kekuatan barat yang terlihat besar itu saat ini tengah berada pada posisi yang menyedihakan. Tidak ayal, fenomena gunung es sangat tepat untuk menggambarkan kondisi mereka, terlihat kuat, tetapi sesungguhnya mereka berada dalam jurang kehancuran yang hebat. Berbagai penyimpangan terjadi, kemerosotan akhlak merebak, kebejatan terjadi dimana-mana, kemunduran perdaban kemanusiaan menjadi penyakit utama yang melanda negeri ini.
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(Al Baqarah:9)”
Para hadirin yang dimuliakan Allah..
Lalu bangsa Indonesia, ditengah penantian masyarakat terhadap perbaikan diberbagai sektor, yang dijanjikan oleh pemerintah, agaknya semakin hari semakin menuju pada titik jenuh yang membosankan. Masyarakat telah banyak kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah, karena ketidak mampuan dalam menciptakan perbaikan diberbagai sektor berbangsa dan bernegara. Jadilah kita menjadi bangsa yang mengidap krisis kepemimpinan.
Disisi lain, masyarakat semakin dibingungkan dengan sikap pemerintah yang seolah lamban dalam menentukan kebijakan baik skala makro maupun skala mikro, jadilah kondisi masyarakat kita seolah berada dalam negeri awan, tanpa pijakan.
Ikwahfillah…
Diambang kehancuran imperialisme barat, tidak kondusifnya kehidupan berbangsa dan bernegara di negara kita, matinya nilai-nilai kemanusiaan, kelabunya sistem Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Perlu ada satu langkah berani untuk mengembalikan citra Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, mengembalikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Karena tidak ada kebahagiaan melainkan itu bersumber dari ajaran Islam Islam adalah Manhajul Hayat (sistem kehidupan) yang membimbing manusia menuju jalan keselamatan. Tidak ada perintah yang tertuang dalam ajaran Islam kecuali di sana ada maslahat. Sebaliknya tidak larangan yang tertuang dalam kecuali di sana ada mudharat yang menghadang
Sehingga kejayaan Islam menjadi satu kunci untuk menciptakan peradaban manusia yang bermartabat, humanis, dan di ridhoi oleh Allah SWT.
Dan itu semua tidak dapat dilakukan melainkan ada orang-orang yang mau mewujudkannya. Dan orang-orang itu adalah kita.
Ada satu masa dimana generasi Islam dilahirkan dan dididik untuk menjadi pejuang yang gigih memperjuangkan Islam. Yaitu masa dimana mereka mencari dan meneguhkan dirinya sebagi judullah yang siap diterjunkan untuk menjadi kader-kader dakwah mengembalikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Dan masa-masa itu salah satunya berlangsung dilingkungan perguruan tinggi.
Ikwahfillah…
Kita sudah sering melihat, bahwa kampus memiliki peranan yang sangat strategis dalam mendidik generasi-genarasi Islam militan dengan kapasitas seorang ilmuwan. Berada pada waktu dan tempat yang tepat, memberikan ruang pilihan bagi seseorang untuk memilih berdakwah dijalan Allah. Maka sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai kader dakwah untuk mengarahkan mereka pada satu jalan yang Allah suka padanya. Yaitu dakwah itu sendiri. Lalu pada akhirnya, segala proses dimana kita mengajak dan menyerukan para cendikiawan muda untuk bergabung dalam barisan dakwah dengan Istilah dakwah kampus.
Dakwah kampus menopang lahirnya generasi-genarasi penerus yang memperjuangkan Islam sesuai dengan tujuan dakwah kampus itu sendiri yaitu suplay alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan - untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam - menjadi sangat penting. Derivasi lainnya, lembaga dakwah kampus perlu secara bertahap menjadi lembaga dakwah kampus yang matang, agar dapat memainkan perannya di perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengusung perubahan.
Oleh karena itu perlu ada upaya untuk mereformasi dakwah kampus agar lebih dapat menopang satu fungsi sebagai pencetak generasi dakwah melaui langkah integratif dan profesional.
Disisi lain juga memerlukan dukungan beberapa hal untuk meningkatkan kemajuan kerja dan stabilitas aksi-kontribusi terhadap karya-karya dakwah kampus. Beberapa hal itu adalah :
Pembinaan kosisten
Pembinaan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter para mujahid genarasi dakwah disetiap masa. Pada masa inilah terjadi transformasi generatif tentang semangat berdakwah, dan menanamkan sikap bersedia berkorban dijalan Allah. Kita menjaga satu dan yang lainnya berada dalam jalan yang diridhoi Allah.
"Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan AL-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." ( QS. Ali 'Imran : 164 )
Program yang sesuai dengan kebutuhan ummat
Agar dakwah kampus ini dapat diterima oleh mad’u dakwah, maka perlu penyesuaian agenda-agenda dakwah yang mendukungk kondisi dakwah kampus, dan tujuan dakwah secara global.
Dukungan finansial
Dukungan finansial dibutuhkan untuk meningkatkan prosentase keberhasilan agenda-agenda dakwah.
Demikianlah pandangan kami terhadap dakwah kampus, kampus merupakan tempat dimana lahir generasi-generasi penerus estafer dakwah, sehingga harus dijaga keberadaannya. Melalui dukungan moril dan materil, dapat lebih memberikan kontribusi yang maksimal sesuia dengan tuntutan zaman
Sunday, August 1, 2010
profetic education, the way to change
bagaimana jika pendidikan bangsa ini diserahkan pada tangan-tangan robot, yaitu guru-guru, orang tua, ustadz atau para murabbi yang mengajarkan ilmu pengatahuan pada anak didiknya hanya dari belakang meja?
ilmu pengetahuan hanya dijadikan sebagai satu pemenuhan kelengkapan adiminstratif tanpa melihat perubahan anak didik secara utuh. anak didik hanya dijejali ilmu pengetahuan, bagai robot tak peduli mereka memahami atau tidak, yang penting hasil ujian bagus, dan target materi belajar selesai.
sungguh sangat konvensional...
hidup di zaman sekarang, dimana kebutuhan kemanusiaan terhadap nilai kemanusiaan itu sendiri semakin mendesak, karena hidup kita telah berada pada ujuung kehancuran, dan kehancran yang paling nyata adalah kehancuran moral dan identitas (karakter). semakin merona saja, kerusakan yang dihadapi oleh manusia, berbagai hipotesis dan postulat bermunculan untuk mendefenisikan produk kehancuran ini, lalu mencari-cari dari manakah sumber malapetakanya. seperti mencari gajah di pelupuk mata. padahal telah jelas, bahwa kehancuran ini adalah buah tangan manusia, berbagai teori dikembangkan untuk teknologi, budaya, dan gaya hidup menjadi sebuah trend puncak peradaban manusia, padahal inilah lembah terburuk dalam sejarah kemanusiaan.
maka kita perlu untuk melihat kembali puncak kejayaan kemanusiaan yang pernah ada, lalu ia tetap utuh hingga kini. yaitu masa dimana kedilan dapat drasakan oleh seluruh manusia, dimana kesejahteraan menjadi gaya hidup manusia.
dalam konsepsi Islam, kita mengenal bahwa satu negara yang pernah berdiri dan menjadi puncak kejayaan peradaban kemanusiaan adalah negara madinah, sebuah negara dibawah kepemimpinan Muhammad dengan sistem kemasyarakatan yang dibangun dibawah ajaran Islam, dan menjadikan keadilan sebagi tolak ukur keberahasilan dalam menjalankan amanah. yang pada akhirnya, di Indonesian kita sering merindukannya hadir ditengah-tengah kita dengan sebutan negara madani.
tetapi disisi lain, perubahan besar untuk mengembalikan moral kemanusiaan kita bukanlah satu pekerjaan yang mudah, ini adalah poryek raksasa yang harus dirancang dengan matang, dengan konsep kekinian, terencana dan harus dilakukan oleh semua atau mayoritas manusia itu sendiri.
salah satu upaya kita untuk mengembalikan kemurnian kemanusiaan kita adalah melalui pendidikan. walaupun kita mengenal bahwa pendidikan dalam arti luas dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, namun untuk mengarahkan pembicaraan kita, maka pembicaraan kita adalah tentang pendidikan yang berinstitusi.
............
ilmu pengetahuan hanya dijadikan sebagai satu pemenuhan kelengkapan adiminstratif tanpa melihat perubahan anak didik secara utuh. anak didik hanya dijejali ilmu pengetahuan, bagai robot tak peduli mereka memahami atau tidak, yang penting hasil ujian bagus, dan target materi belajar selesai.
sungguh sangat konvensional...
hidup di zaman sekarang, dimana kebutuhan kemanusiaan terhadap nilai kemanusiaan itu sendiri semakin mendesak, karena hidup kita telah berada pada ujuung kehancuran, dan kehancran yang paling nyata adalah kehancuran moral dan identitas (karakter). semakin merona saja, kerusakan yang dihadapi oleh manusia, berbagai hipotesis dan postulat bermunculan untuk mendefenisikan produk kehancuran ini, lalu mencari-cari dari manakah sumber malapetakanya. seperti mencari gajah di pelupuk mata. padahal telah jelas, bahwa kehancuran ini adalah buah tangan manusia, berbagai teori dikembangkan untuk teknologi, budaya, dan gaya hidup menjadi sebuah trend puncak peradaban manusia, padahal inilah lembah terburuk dalam sejarah kemanusiaan.
maka kita perlu untuk melihat kembali puncak kejayaan kemanusiaan yang pernah ada, lalu ia tetap utuh hingga kini. yaitu masa dimana kedilan dapat drasakan oleh seluruh manusia, dimana kesejahteraan menjadi gaya hidup manusia.
dalam konsepsi Islam, kita mengenal bahwa satu negara yang pernah berdiri dan menjadi puncak kejayaan peradaban kemanusiaan adalah negara madinah, sebuah negara dibawah kepemimpinan Muhammad dengan sistem kemasyarakatan yang dibangun dibawah ajaran Islam, dan menjadikan keadilan sebagi tolak ukur keberahasilan dalam menjalankan amanah. yang pada akhirnya, di Indonesian kita sering merindukannya hadir ditengah-tengah kita dengan sebutan negara madani.
tetapi disisi lain, perubahan besar untuk mengembalikan moral kemanusiaan kita bukanlah satu pekerjaan yang mudah, ini adalah poryek raksasa yang harus dirancang dengan matang, dengan konsep kekinian, terencana dan harus dilakukan oleh semua atau mayoritas manusia itu sendiri.
salah satu upaya kita untuk mengembalikan kemurnian kemanusiaan kita adalah melalui pendidikan. walaupun kita mengenal bahwa pendidikan dalam arti luas dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, namun untuk mengarahkan pembicaraan kita, maka pembicaraan kita adalah tentang pendidikan yang berinstitusi.
............
Saturday, July 31, 2010
Trasnformasi kedewasaan; pengukuhan mahasiswa
Satu kebanggaan bagi penulis dapat bertemu dengan mahasiswa baru, mereka siapapun yang telah bertemu dengan saya, atau akan bertemu dengan saya. Kedatangan kalian seperti obat yang menyembuhkan kerinduan pada keluhuran cita-cita bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedikit mengobati luka memar kekecewaan terhadap sistem pendidikan lalu yang menyisakan penderitaan berupa ketidak merataan pendidikan diseluruh pelosok negeri. Dan kedatangan kalian memberi satu pengharapan besar pada bangsa ini, bahwa generasi muda tunas bangsa senantiasa bermunculan untuk memberikan kontribusinya pada pembangunan bangsa, menunjukan prestasi-prestasi gemilang untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa ini di mata bangsa dan negara lain. Supaya mereka tahu, bahwa bangsa indonesia adalah bangsa yang besar, bermartabat, dan berkarakter.
Tentu tidak mudah, mentransformasi diri secara cepat dari tingkat kedewasaan siswa menuju tingkat kedewasaan mahasiswa, menyandang gelar akademis yang memiliki tanggungjawab moral menerapkan tridharma perguruan tinggi. Anda akan mengalami perubahan luarbiasa sebagai seorang remaja. Dan perubahan yang akan anda alami hanya ada dua pilihan, anda berubah menjadi orang yang baik, atau anda berubah menjadi orang yang buruk. Pembatas antara keduanya sangat kecil, kecil saja sikap salah yang anda ambil untuk mengarungi kehidupan kampus ini, maka akan sangat susah untuk memperbaikinya diwaktu yang akan datang.
Anda tidak bisa memalingkan diri dari perubahan besar dalam diri anda ini, hal ini dapat dijelaskan karena perubahan sikap ini disebabkan oleh dua hal berikut:
1. Konsistensi kognitif
Setiap orang tentu memiliki prinsip dalam hidupnya, walaupun kekuatan dalam mempengaruhi hidup itu sangat kecil, tapi pada kondisi tertentu, terkadang prinsip itulah yang menunjukan arah pada dirinya, itulah yang disebut konsistensi kognitif, yaitu konsistensi diri yang mengarahkan kehidupan mereka pada satu jalan yang telah terekam dalam konsistensi itu. Maka sangat bersyukurlah bagi anda yang memiliki prinsip hidup postitif, karena anda telah memiliki satu pegangan yang mengarahkan hidup anda akan menjadi seperti apa. Tetapi disatu sisi, konsistensi itu sangat rentan dengan pengaruh dari luar.
Sebagai contoh, kita ambil sikap terhadap bakso. Anda menyukai makan bakso dan sering mencoba bakso di berbagai tempat. Suatu saat anda mendengar bahwa banyak bakso yang menggunakan formalin dan daging tikus. Karena informasi tersebut anda mengalami disonansi. Nah, apa yang anda lakukan untuk mengurangi disonansi anda? Mungkin anda berhenti mengkonsumsi bakso, tidak lagi menyukai bakso (menjadi bersikap negatif), atau mengabaikan informasinya (cuek saja).
Oleh karena itu penting bagi anda mempertahankan konsistensi kongnitif positif anda, yaitu dengan menjaga motivasi atau pengaruh dalam diri anda dengan bergaul dengan lingkungan yang mengokohkan konsistensi itu.
2. Komunikasi persuasif
Berapa banyak orang yang membelanjakan uangnya untuk membeli barang di mall atau swalayan setelah menonton sebuah iklah yang ditayangkan pada saat primetime, dikeluarkan sebanya 20 kali setiap 10 menitnya?
Tentu saja banyak, pikiran mereka telah hanyut dengan kata-kata menghebohkan dari iklan itu, lalu berapapu harga yang ditawarkan akan tetap dibeli karena kebutuhan dirinya telah berubah menjadi kebutuhan iklan.
Artinya bahwa penting bagi anda untuk mendengarkan siapa yang bicara atau siapa yang mempengaruhi anda, karena mereka memilik potensi besar untuk mempengaruhi anda menjadi seperti apa anda nantinya
Maka untuk mengawal transformasi diri kita ini, dari kedewasaan siswa menuju satu kedewasaan mahasiswa dibutuhkan satu keberanian untuk menentukan sejak dini mau jadi apa diri kita, keputusan anda masuk kekampus ini telah saya anggap satu poin keberuntungan, karena kampus ini telah banyak melahirkan generasi-generasi gemilang, berprestasi dan memiliki pandangan jauh kedepan, sehingga mereka tampill sebagai penggerak pembangunan bangsa.
Pendidikan profetik adalah kurikulum pergaulan dikampus ini, kekeluargaan adalah ikatan sosial diantara warganya, cinta tuhan dan agama mengisi relung-relung hati mereka, berprestasi adalah gaya hidup mereka.
Pada akhirnya saya mengucapkan selamat datang bagi mahasiswa baru di kampus profetik.---Kampusnya santri gaul----
Penulis : Mustaghfiri Ramadlan (KMM FT UNY)
Tentu tidak mudah, mentransformasi diri secara cepat dari tingkat kedewasaan siswa menuju tingkat kedewasaan mahasiswa, menyandang gelar akademis yang memiliki tanggungjawab moral menerapkan tridharma perguruan tinggi. Anda akan mengalami perubahan luarbiasa sebagai seorang remaja. Dan perubahan yang akan anda alami hanya ada dua pilihan, anda berubah menjadi orang yang baik, atau anda berubah menjadi orang yang buruk. Pembatas antara keduanya sangat kecil, kecil saja sikap salah yang anda ambil untuk mengarungi kehidupan kampus ini, maka akan sangat susah untuk memperbaikinya diwaktu yang akan datang.
Anda tidak bisa memalingkan diri dari perubahan besar dalam diri anda ini, hal ini dapat dijelaskan karena perubahan sikap ini disebabkan oleh dua hal berikut:
1. Konsistensi kognitif
Setiap orang tentu memiliki prinsip dalam hidupnya, walaupun kekuatan dalam mempengaruhi hidup itu sangat kecil, tapi pada kondisi tertentu, terkadang prinsip itulah yang menunjukan arah pada dirinya, itulah yang disebut konsistensi kognitif, yaitu konsistensi diri yang mengarahkan kehidupan mereka pada satu jalan yang telah terekam dalam konsistensi itu. Maka sangat bersyukurlah bagi anda yang memiliki prinsip hidup postitif, karena anda telah memiliki satu pegangan yang mengarahkan hidup anda akan menjadi seperti apa. Tetapi disatu sisi, konsistensi itu sangat rentan dengan pengaruh dari luar.
Sebagai contoh, kita ambil sikap terhadap bakso. Anda menyukai makan bakso dan sering mencoba bakso di berbagai tempat. Suatu saat anda mendengar bahwa banyak bakso yang menggunakan formalin dan daging tikus. Karena informasi tersebut anda mengalami disonansi. Nah, apa yang anda lakukan untuk mengurangi disonansi anda? Mungkin anda berhenti mengkonsumsi bakso, tidak lagi menyukai bakso (menjadi bersikap negatif), atau mengabaikan informasinya (cuek saja).
Oleh karena itu penting bagi anda mempertahankan konsistensi kongnitif positif anda, yaitu dengan menjaga motivasi atau pengaruh dalam diri anda dengan bergaul dengan lingkungan yang mengokohkan konsistensi itu.
2. Komunikasi persuasif
Berapa banyak orang yang membelanjakan uangnya untuk membeli barang di mall atau swalayan setelah menonton sebuah iklah yang ditayangkan pada saat primetime, dikeluarkan sebanya 20 kali setiap 10 menitnya?
Tentu saja banyak, pikiran mereka telah hanyut dengan kata-kata menghebohkan dari iklan itu, lalu berapapu harga yang ditawarkan akan tetap dibeli karena kebutuhan dirinya telah berubah menjadi kebutuhan iklan.
Artinya bahwa penting bagi anda untuk mendengarkan siapa yang bicara atau siapa yang mempengaruhi anda, karena mereka memilik potensi besar untuk mempengaruhi anda menjadi seperti apa anda nantinya
Maka untuk mengawal transformasi diri kita ini, dari kedewasaan siswa menuju satu kedewasaan mahasiswa dibutuhkan satu keberanian untuk menentukan sejak dini mau jadi apa diri kita, keputusan anda masuk kekampus ini telah saya anggap satu poin keberuntungan, karena kampus ini telah banyak melahirkan generasi-generasi gemilang, berprestasi dan memiliki pandangan jauh kedepan, sehingga mereka tampill sebagai penggerak pembangunan bangsa.
Pendidikan profetik adalah kurikulum pergaulan dikampus ini, kekeluargaan adalah ikatan sosial diantara warganya, cinta tuhan dan agama mengisi relung-relung hati mereka, berprestasi adalah gaya hidup mereka.
Pada akhirnya saya mengucapkan selamat datang bagi mahasiswa baru di kampus profetik.---Kampusnya santri gaul----
Penulis : Mustaghfiri Ramadlan (KMM FT UNY)
Subscribe to:
Posts (Atom)