Tulisan ini kupersembahkan untuk seseorang yang pernah menjadi "Istimewa" dalam relung hatiku. bukan yang terindah, tapi setidaknya ia, telah meninggalkan bekas yang cukup dalam dan untuk ku hapuskan.
Kita bertemu dalam satu tahapan yang sama, ketika cahaya iman sedang berpendar mengisi jiwa kita. Perlahan tapi pasti, kita terbias oleh cahaya tersebut, meninggalkan kebelakang jejak-jejak immature pada kondisi jiwa yang tercerahkan.
Kita saling menyapa, tapi tidak bicara panjang lebar. Kita berinteraksi tapi tidak melebur diri dalam pekatnya hubungan.
Cahaya iman terus membasuh, kulihat kau bersih lebih dahulu. Sepertinya jiwaku terlalu hitam, atau pada saat yang sama aku juga bermandikan lumpur dosa-dosa. sehingga sebanyak apapun cahaya membasuhku, pada saat yang sama aku kotor lagi.
Akhlakmu begitu indah, secara eksponen terus menunjukkan ke'aliman jiwa yang bersih. Sedang aku tertinggal dibelakang. memudar dalam pekatnya dosa-dosa.
Engkau yang disana,. aku tak bisa berhenti mencintaimu.
Showing posts with label surat cinta. Show all posts
Showing posts with label surat cinta. Show all posts
Tuesday, December 30, 2014
Friday, April 4, 2014
For My Beloved Brother; Be Strong!
Sudah tahun ketiga kau di negeri tanpa ayah dan bunda. Ada beberapa keluarga, namun aku tahu kita tak selalu bisa menyapa mereka. Ku lihat, dari wajahmu cetakan rindu. Rindu bertemu ayah bunda. rindu bertemu adik-adikmu bukan? aku tahu kau rindu ingin pulang. rindu ingin mencium aroma kampung yang dulu kau sering bermain bersama kawan-kawan sebayamu. Atau aroma tanah ladang, aroma ilalang dan rerumputan, tempat kau menggembala sapi yang menjadi modal kuliahmu dulu.
Aku tahu kau rindu saat-saat diamana kau kayuh sepeda tuamu untuk berangkat sekolah. Menjadi yang terdepan dibarisan apel pagi, dan terkadang menjadi yang paling belakan, atau terkadang menjadi yang terhukum karena kau terlambat. Saat itu bisa ku bayangkan wajahmu pucat karena takut, atau cemberut karena kesal.
Aku tahu kau rindu, sebab aku juga.
Aku tahu kau rindu saat-saat diamana kau kayuh sepeda tuamu untuk berangkat sekolah. Menjadi yang terdepan dibarisan apel pagi, dan terkadang menjadi yang paling belakan, atau terkadang menjadi yang terhukum karena kau terlambat. Saat itu bisa ku bayangkan wajahmu pucat karena takut, atau cemberut karena kesal.
Aku tahu kau rindu, sebab aku juga.
Subscribe to:
Posts (Atom)