Monday, April 18, 2011

wahai adikku

Adikku,, malam ini tak bisa kupejamkan mata. terlintas parasmu menguak segala memori kebersamaan denganmu.


Adikku, sungguh bersamamu menjadi kenangan yang tak akan terlupakan, mengisi bagian dalam hidupku, menambah koleksi dalam gerai lukis jiwa fanaku. yang mengingatkanku tentang kampung halaman, yang bertabur debu dalam taburan cahaya surya yang panas, dan becek berlumut ketika penghujan menyapa.


Adikku, sungguh bersamamu adalah karunia yang begitu indah. meski tak jarang aku membuatmu menangis, atau bahkan sebaliknya (aku malu menulisnya), karena memang kita tak jarang sama dalam beberapa hal. teringat, hal2 kecil menjadi pemantik pertikaian kita, bersikeras aku karena aku memang yang tertua, dan kau tak mau mengalah karena paling besar kemungkinan untuk dibela oleh ayah dan ibu. Ah.. tapi kini aku merindukanmu.


Adikku,, apakah remote Tivi itu masih berfungsi? terakhir kita berebut ayah menyembunyikannya, dan terpaksa secara manual kita harus mengganti channel TV.., yah.. kita memans sama-sama suka film kartun, tapi Dora,, aku tak selevel dengan itu. sedang bagimu itulah yang terbaik. sehingga harap-harap cemas aku tak ingin ayah membanting TV karena ulah kita yang tak kunjung damai,, sebaiknya aku mengalah, walau tak jarang kau juga mengalah..., sungguh, sebuha goresan warna yang indah.


Adikku,, apakah sepeda itu masih berwujud? jangan remehkan, meski berusia tua, namun sepeda itulah yang paling handal dikelasnya.., dia adalah warisan kakak tertua kita, menjadi milikku karena yang empunya hijrah ke kota jogja, sepertiny begitu adanya sejarah berulang, menjadi milikmu ketika aku hijrah pula ke jogja. walau ayah mengizinkanmu membawa motor di akhir jenjang SMA mu. satu hal yang sangat aku inginkan kala itu, namun selalu aku berakhir dengan tunduk kepala. aku mafhum karena dulu motor itu menjadi satu-satunya tunggangan ayahanda, kemanapun ia pergi. barangkali kondisi telah berubah pada masamu.


asal kau tahu saja, sepeda itu.. begitu berharga dimataku, berapa kali ia memenangkanku dalam kompetisi balap saat berangkat dan sepulang sekolah. berulangkali aku tampil PeDe dihadapan gadis2 kecamatan dengan sepeda itu, padahal yang lainnya menunggangi grand, megapro. aku tak peduli. bersama sepeda itu, aku gaet hati para gadis2 itu....,


walau tak jarang aku harus jalan kaki saat pulang sekolah, karena mendapati sepeda itu tak berantai, kempis, atao bahkan hilang sadelnya.., dendam rasanya pada mereka. anak2 begundal kecamatan yang seringkali mengganggu kendaraan kayuh para pendekar kampung. sesekali ingin rasanya bagi kami untuk menghajar mereka. tapi kami tahu bahwa tidak ada gunanya, memperpanjang masalah saja. Tak lama, dendam itu bercokol, karena perjalanan pulang bersama2 kawan. menghilangkan segala keluh kesah.


apakah pohon sony itu masih berdiri? disanalah ekspresei kenakalah kami. jika saat ini aku tahu siapa yang empunya, maka mohonkanlah padanya untuk mengikhlaskan apa yang telah kami ambil tanpa sepengetahuannya.


wahai adikku.. kini kau berjuang, bertarung dengan bait-bati masalah jawab. berjuanglah adikku. dengan kekuatanmu sendiri, aku yakin kau bisa melakukannya. aku dengar kau terhebat dalam mate-matika, bukankah banyak teman2mu yang meniru pekerjaanmu ketika ada pekerjaan rumah. berjuanglah wahai adikku. MUHAMMAD YUSRO HIDAYAT.........

3 comments:

  1. Subhaanallah... nasihat penuh cinta dari kakak kepada adiknya. mengingatkan kita film Sang Murabbi, ust. Rahmat Abdullah juga menasehati adik tercintanya, Awik

    Salam ukhuwah

    ReplyDelete
  2. apik, apik, apik...!
    Tp ada yg lucu, nggaet gadis2 kecamatan, hedew, wkwkwkk...

    ReplyDelete
  3. @admin Beda: wa 'alaika salam., semoga

    @sebiru langit: masa lalu..,

    ReplyDelete

Pembaca yang baik meninggalkan jejak..