Tuesday, April 26, 2011

Muwashofat Kader Dakwah

mengingatkan kembali tentang karakter dakwah kita. bahwa aset yang paling utama (Rashidul Harokah) dalam dakwah adalah kader itu sendiri. adanya kader maka ada satu proses dakwah yang dilakukan. Betapa pentinya kader dalam barisan dakwah sehingga ia mendapat perhatian khusus dalam setiap pengkajian dakwah.

Satu orang kader tidak dapat dibandingkan dengan sekian milyar dana, karena menyadarkan seseorang hingga mendapatkan hidayah adalah pekerjaan amat besar yang tidak bisa ditukar dengan materi seberapapun.

Rasulullah SAW sendiri telah memberikan kabar betapa besarnya “nilai” hidayah, hingga satu orang saja yang berhasil didakwahi, itu lebih baik dari onta merah.

فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seorang laki-laki melalui tanganmu adalah lebih baik bagimu daripada onta merah (HR. Bukhari Muslim)

Pada masa rasulullah, onta merah merupakan kendaraan yang paling mewah, dapatlah kita samakan dengan kendaraan yang termahal dimasa kini.

oleh karena itu, melakukan pembinaan dan pengajaran yang berkelanjutan terhadap seorang kader dakwah menjadi satu proses yang amatlah penting. seorang aktivis dakwah harus dibawa pada satu pencapaian diri yang maksimal, menjadi pribadi2 qurani yang mampu menggerakan lisan dan perbuatan mereka menuju perjuangan untuk kemenangan Islam.

Kader dakwah, yang dalam Al-Qur'an dicitrakan dengan gelar “rabbani” sesungguhnya menyiratkan perbaikan kualitas yang harus menjadi agenda prioritas kader sebagai aset utama gerakan (rashidul harakah).

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah.” Akan tetapi, (dia berkata) “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS. Ali Imran : 79)

terkait dengan makna rabbani ini, Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari yang dikenal dengan sebutan Imamul Mufassirin mengatakan bahwa rabbani adalah seseorang yang memenuhi beberapa kualifikasi sebagai berikut:
1. faqih, dalam arti memahami Islam dengan sangat baik
2. 'alim, dalam arti memiliki ilmu pengetahuan
3. bashir bi as-siyasah, dalam arti melek politik
4. bashir bi at-tadbir, dalam arti melek manajemen
5. qaim bi syu'uni ar-ra'iyah bimaa yuslihuhum fi dunyaahum wa diinihim, yaitu melaksanakan segala urusan rakyat yang mendatangkan kemaslahatan mereka, baik dalam urusan dunia maupun agama.



lebih jauh lagi, Imam Syahid Hasan Al bana menitik beratkah agara para aktivis dakwah mampu memenuhi pencapaian muwashofat yang sepuluh.
  1. salimul Aqidah
  2. Shohihul Ibadah
  3. Matinul Khuluq
  4. Qowiyyul Jismi. 
  5. Mutsaqqoful Fikri
  6. Mujahadatul Linafsihi.
  7. Harishun Ala Waqtihi. 
  8. Munazhzhamun fi Syuunihi.. 
  9. Qodirun Alal Kasbi.  
  10. Nafi’un Lighoirihi.
lalu dirijitkan kembali pada pemenuhan kemampuan kader dalam hal hal berikut:
  1. kokoh dan mandiri, 
  2. dinamis dan kreatif, 
  3. spesialis dan berwawasan global, 
  4. murobbi produktif, 
  5. beramal jamai, 
  6. pelopor perubahan 
  7. serta ketokohan sosial
 Semangat Membina...

1 comment:

  1. assalamu'alaykum...salam ukhuwah dan kenal. Blog yang menarik untuk diikuti. Follow blog saya ya.. Syukron

    ReplyDelete

Pembaca yang baik meninggalkan jejak..