Saturday, January 26, 2013

Fiqh Sakit Hati : Muhammad Muhyidin

Sakit hati?

Ada seseorang yang selama ini kita selalu baik padanya, suatu waktu ia justru melakukan keburukan kepada kita, apa yang kita rasakan? Air susu yang dibalas dengan air tuba.

Atau ada orang senantiasa hobi membincangkan keburukan kita dibelakang, sedang ia menunjukkan wajah yang berseri dihadapan kita. atau diwaktu yang lain ada orang yang secara sengaja hendak membuat makar terhadap keselamatan kita. apa yang harus kita lakukan?

Sakit hati dalam beberapa literatur masuk dalam pembahasan akhlak, sebab ia menyangkut sebuah sikap yang ditunjukkan oleh seseorang atas kondisi yang dihadapinya berkenaan dengan kehormatan dirinya sebagai manusia, atau semisal ia disakiti atau diDzolimi.

Namun dalam buku ini Muhammad Muhyidin dengan berani membahas sakit hati dari sudut pandang fiqh. sebabnya pengarang memandang bahwa ada dalil yang sangat gamblang menjelaskan mengenai perkara ini, sehingga pantas bila sakit hati ini juga dikaji dalam kerangkan hukum yang jelas (fiqh).

Sakit hati, adalah satu kondisi dimana seseorang merasa tersakiti karena ulah seorang atau banyak orang lainnya. baik itu disengaja ataupun tanpa sengaja.

Lalu bagaimana kita bersikap ketika berada dalam kondisi sakit hati? 

Muhammad Muhyidin mengemukakan Q.S An Nahl:26 sebagai dalil umum yang digunakan untuk bersikap dalam perkara ini. 
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

"Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." (QS. Al-Nahl: 126)


Dua hal yang boleh dilakukan seseorang manakala ia merasa terdzolimi, tersakiti, atau sakit hati atas perlakukan orang lain.

Yang pertama diperkenankan untuk membalas dengan yang setimpal. tidak kurang dan tidak lebih. Namun tidak semua perbuatan itu bisa dibalas dengan perbuatan yang sama. dalam hal ini membaca bukunya langsung akan semakin memperjelas.

Yang kedua adalah bersabar. dalam konteks ini seseorang yang merasa teraniaya meski tersakiti, dia memilih bersabar atas perlakukan tersebut. dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. dan ini dikatakan sebagai sikap terbaik. 

Ibnu Katsir berkata: "Maksudnya: Allah tidak akan menyia-nyiakan sikapnya itu di sisi-Nya. Tetapi Allah akan memberikan pahala yang besar dan balasan baik yang setimpal. Disebutkan dalam hadits shahih, "Tidaklah Allah menambah kepada hamba melalui maaf yang ia berikan kecuali kemuliaan"." (HR. Muslim)

Banyak hikmah yang bisa diambil dalam sikap yang kedua ini, salah satunya adalah memperkuat daya tahan diri atas berbagai ujian kehidupan. yang pada akhirnya akan memberi kekuatan pada seseorang untuk menjadi pribadi yang fokus pada tujuan-tujuan besar dan mengesampingkan persoalan-persoaln kecil dalam hal ini adalah sakit hati.

Dan sebenarnya ada sikap ketiga, yaitu membalas dengan yang lebih besar dari perbuatan pelaku kedzoliman. sikap ini tidak dianjurkan, karena justru akan membawa kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang telah diperbuah oleh pelaku kedzoliman tersebut. dalam firman-Nya, "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Yaitu orang yang memulai berbuat buruk kepada orang lain atau membalas keburukan orang lain dengan yang lebih banyak daripada keburukannya. Maka kelebihan tersebut dinilai sebagai perbuatan zalim (kang_adhan, dari berbagi sumber)

Selanjutnya adalah resume buku Isti'ab Karya Fathi Yakan

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik meninggalkan jejak..