Saturday, November 23, 2013

Paradise Of Jogja :: Tugu Jogjakarta

Usai berphoto dengan latar belakang tugu jogja, saya penasaran dengan sejarah pembangunan tugu tersebut, siapa yang membuat, atas instruksi siapa, kapan, sudah berapakalai renovasi dan pemugaran, dan yang paling menggelitik, dari keseluruhan bentuk tugu jogja, kenapa ada logo bintang david di segi empat bagian atasnya? penasaran saya buka google dan ini hasilnya. 

Tugu Jogja: Bentuk awal (1755) dan hasil renovasi (1867)
Tugu Jogja pertama kali dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, Raja pertama kesultanan yogykarta (pendiri kerajaan) pada tahun 1755. berbentuk Golong Gilig. 

Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.

Lalu pada tanggal 10 Juni 1867 terjadi gempa yang menyebabkan tugu jogja yang berbentuk silinder tersebut runtuh. Dan pada tahun 1889 pemerintah Belanda merevasi bangunan tugu menjadi bentuk seperti sekarang.

Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.

Secara geografis Tugu Jogja Terletak di perempatan Jl Jenderal Sudirman dan Jl. Pangeran Mangkubumi ini. Dari kraton Yogyakarta kalau kita melihat ke arah utara, maka kita akan menemukan bahwa Jalan Malioboro, Jl Mangkubumi, tugu ini, dan Jalan Monumen Yogya Kembali akan membentuk satu garis lurus persis dengan arah ke puncak gunung Merapi.
Letak geografis Tugu Jogja

Tugu pada umumnya dibangun untuk menunjukkan batas wilayah tertentu. demikian pula Tugu Jogja dibangun sebagai tanda bahwa siapapun yang melintasi wilayah tersebut telah memasuki area kesultanan jogja. 

Jika dilihat dari bentuk bangunannya, maka terlihatlah corak khas arsitektur kesultanan jogja yang melekat pada bangunan awal tugu.

Golong gilig kalau dilihat justru tidak menyerupai arsitektur bangunan hindu budha, yang memiliki corak berundak-undak dalam setiap bangunannya. Tapi mengarah pada corak bangunan timur tengah, pada bangunan kesultanan dan kubah yang berbentuk bulat dan silinder.

Barulah pada bangunan hasil renovasi, oleh pemerintah Belanda bangunan tugu dibentuk dengan corak hindu budha, terlihat dari ukiran-ukiran tugu, dan warna eropa yang khas, Putih. serta tambahan bintang david yang ada pada tugu merupakah corak yang ada dalam simbol-simbol agama yang berkembang di Eropa, Yahudi dan Kristen.

Nilai filosofis

Menurut Lutse, Tugu Gologng Gilik menjadi salah satu poros filosofis Jogja. Dalam pemahaman makrokosmos, Tugu Golong Gilig bermakna penyatuan antara manusia dan Tuhannya. Perwujudan kepasrahan dan kepercayaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pemahaman mikrokosmos, raja sebagai perwujudan Tuhan di dunia merangkul dan mengajak masyarakatnya untuk selalu bersatu menghancurkan dan memusnahkan penjajahan. Sehingga secara makrokosmos dan mikrokosmos, manunggaling kawula lan gusti bisa diartikan sebagai bentuk penyatuan antara rakyat, raja dan Tuhannya.

Tugu ini menunjukkan bahwa tradisi Ke-Tuhanan telah menjadi nilai yang agung dalam sistem masyarakat jogja. Tuhan telah menjadi bagian penting dalam mewujudkan peradaban masyarakat yang tinggi dan bermartabat. 

hasil jepretan latar tugu jogja.
Kamaera HP
Namun demikian, perlu dipahami meskipun tugu jogja memiliki nilai filosofis yang tinggi, tidak menyebabkan masyarakat jogja menjadikan bangungan fisik ini bagian dari nilai ideologis yang fundamental. melainkan hanya sebagai simbol saja. Itulah sebabnya ketika Belanda pada tahun 1889 merubah bentuk dan desai Tugu, ditambah lagi ada catatan-catatan yang terlibat dalam pembangunan dalam rangka memecah belah masyarakat jogja dan kesultanan, tidak berhasil.

Sebab sistem nilai masyarakat jogja tidak berangkat dari simbol, tapi simbol tersebutlah yang merepresentasikan nilai. sehingga jika simbol-simbol tersebut di rubah, nilai akan tetap lestari. Masyarakat yang adil, sejahtera, makmur, mencintai kedamaian, anti kekerasan. seperti asal makna namanya ngayogkarta berasal dari kata "Ayodhya" . "A" berarti tidak, "Yodhya" berari perang. Tidak perang, yang bermakna damai.

Saat ini tugu Jogja menjadi salah satu obyek wisata yang di kelola oleh pemerintah. Wisatawan baiklokal maupun internasional tidak akan melewatkan berfoto di Tugu Jogja. waktu yang tepat untuk berfoto ditugu jogja adalah pada malam hari, sistem penerangan yang diterapkan disekita tugu memberi efek yang bagus sehingga menghasilkan gambar latar yang artistik.



Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://www.tembi.net
http://www.yogyes.com


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik meninggalkan jejak..